Oleh: Dr. Muh. Mustakim, M.Pd
Hari-hari ini kita dihadapkan pada akhir tahun 2025 dan pergantian tahun ke 2026. Banyak hal terjadi baik capaian kesuksesan, kebahagiaan hingga berbagai ujian, bencana dan disuguhkan berbagai hal menyayat hati nan pilu. Satu hal yang penting, disadari ataupun tidak, disukai ataupun tidak, waktu akan terus berjalan. Waktu dalam Al-Qur’an setidaknya terintrepetasikan dalam beberapa kata seperti kata zamân, waqt, ajal, al-ashr, ad-dahr dan kata yang semakna lainnya. Diantara ayat yang menunjukkan tentang urgensi memaknai waktu adalah kata al-’ashr. Allah berfirman: Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran. (Qs. Al-‘Asr/103:1-3)
Imam Syafi’i mengomentari surat al-’ashr dengan menyatakan bahwa seandainya tidak ada surat lain yang diturunkan selain surat ini, niscaya surat ini sudah mencukupi untuk menjadi pedoman hidup manusia, menunjukkan betapa krusialnya pemahaman terhadap waktu. Imam Al-Ghazali yang mengibaratkan waktu sebagai esensi kehidupan, di mana setiap detiknya harus dimanfaatkan secara optimal untuk mencapai kesuksesan dunia dan akhirat. Pergantian tahun menunjukkan pergantian waktu dari tahun ke tahun dari masa ke masa. Sungguh beruntunglah mereka yang memanfaatkan waktu yang dilaluinya dengan sebaik-baiknya. sebaliknya merugilah mereka yang mensia-siakan waktu yang dianugerahkan kepadanya.
Seyogyanya pergantian tahun dimaknai secara positif dan mendatangkan manfaat bagi setiap individu. Berikut 3 tips yang dapat dilakukan:
Pertama, Muhasabah atau evaluasi. Pergantian tahun bukanlah sekadar pergantian angka pada kalender, melainkan sebuah kesempatan untuk merefleksikan diri dan meningkatkan keimanan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, “Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi” (QS. At-Taubah: 36). Pergantian tahun dalam Islam juga mengingatkan kita akan pentingnya waktu. Waktu adalah nikmat yang diberikan oleh Allah SWT, dan kita harus memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Rasulullah SAW bersabda, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum fakirmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu” (HR. Hakim).
Dalam Islam, pergantian tahun juga merupakan kesempatan untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah SWT. Kita harus mengakui kesalahan-kesalahan kita dan berjanji untuk memperbaiki diri. Allah SWT berfirman, “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang'” (QS. Az-Zumar: 53).
Marilah kita evaluasi diri kita, berbagai kinerja, capaian, target dan apa yang telah kita citakan ditahun ini. apakah sudah tercapai ? apakah masih ada yang tertinggal ? kendala apa yang menjadikan belum tercapai ? dan berbagai pertanyaan yang akan menjadikan kita lebih mampu menghargai kesempatan dan waktu yang Allah SWT berikan kepada kita.
Kedua, Komitmen untuk lebih baik. Evaluasi yang baik adalah ketika mampu menjadi pijakan untuk lebih baik dari sebelumnya. Dalam menghadapi pergantian tahun, kita harus memiliki niat yang baik dan tujuan yang jelas. Kita harus menetapkan tujuan untuk meningkatkan keimanan, meningkatkan amal saleh, dan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang dia tuju” (HR. Bukhari). Maka dari itu, sebuah komitmen harus dibuat untuk meningkatkan kualitas diri dan ibadah di tahun mendatang, sejalan dengan prinsip muhasabah atau intropeksi diri yang dianjurkan dalam Islam. Ini melibatkan penilaian terhadap perilaku di masa lalu dan penetapan resolusi konkret untuk peningkatan moral dan spiritual di masa depan, sejalan dengan prinsip muhasabah yang ditekankan dalam ajaran Islam. Melalui proses ini, individu diharapkan dapat mengidentifikasi area-area yang memerlukan perbaikan dan merumuskan strategi yang efektif untuk mencapainya, termasuk upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ketiga, Mulai dari yang terkecil/ termudah. Kesuksesan besar selalu dimulai dari langkah pertama. Kemajuan yang membanggakan selalu dimulai dari langkah kecil nyata. Menjadi hal krusial yang tidak bisa diabaikan dalam ajaran Islam adalah mualailah segala sesusatu dengan niat yang baik. Niat yang tulus dan bersih harus mendasari setiap komitmen, semata-mata mengharap ridha Allah SWT, dan kemudian ditindaklanjuti dengan mujahadah, yaitu usaha sungguh-sungguh untuk mewujudkan niat tersebut dalam bentuk amal yang konsisten. Prinsip ini sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya niat dan keikhlasan (ikhlas) dalam setiap tindakan, yang merupakan landasan bagi evaluasi pendidikan dan upaya perbaikan diri. Niat yang benar menjadi fondasi utama untuk perencanaan yang matang dan terstruktur. Menata niat pada tahap awal dan menetapkan tujuan yang jelas, berlandaskan pada keridhaan Allah, menjadi esensial untuk memperoleh keberkahan dalam setiap usaha, ikhtiar langkah untuk menuju kesuksesan. Perencanaan perilaku yang matang diperlukan untuk mengarahkan tindakan secara efektif, memastikan setiap langkah selaras dengan tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini sejalan dengan konsep hijrah yang tidak hanya berarti perpindahan fisik, tetapi juga perpindahan sikap dan pikiran menuju kebaikan, dengan mencari lingkungan yang kondusif untuk mendukung perubahan tersebut. Perubahan yang menghasilkan manfaat, berdampak pada diri sendiri, masyarakat, dan lingkungan yang lebih luas, selaras dengan tujuan Islam untuk menciptakan kemaslahatan umum. semoga kita mampu bersikap bijak dalam memaknai pergantian tahun 2025 ke 2026 Pentingnya muhasabah atau introspeksi diri ini diintegrasikan ke dalam ajaran Islam sebagai pendorong untuk koreksi diri dan peningkatan berkelanjutan, di mana seorang Muslim didorong untuk secara kritis meninjau tindakan masa lalunya demi mencapai kondisi yang lebih baik di masa depan. Pada hakikatnya pergantian tahun dalam adalah kesempatan untuk merefleksikan diri, meningkatkan keimanan, dan memperbaiki diri, Semoga kita dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya dan mencapai tujuan kita di tahun yang baru.
)* dikembangkan dari berbagai sumber