Tahun baru sering datang dengan kembang api, countdown, dan resolusi yang kadang hanya bertahan seminggu. Tapi 2026 seharusnya tidak kita sambut sekadar dengan hiruk-pikuk. Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam, pergantian tahun adalah momen muhasabah—berhenti sejenak, menoleh ke dalam, lalu melangkah dengan sadar.
Islam tidak mengenal perayaan tahun baru sebagai ritual ibadah, tetapi sangat menekankan makna waktu. Al-Qur’an bahkan bersumpah atas nama waktu: “Wal ‘ashr…” (QS. Al-‘Ashr). Ini sinyal kuat bahwa waktu bukan sekadar angka di kalender, melainkan amanah. Setiap detik yang berlalu tidak akan kembali, dan setiap tahun yang berganti adalah pengingat bahwa umur kita juga sedang berjalan, tanpa tombol rewind.
Buat generasi Z yang hidup serba cepat, refleksi sering terasa membosankan. Tapi justru di era scroll tanpa henti ini, refleksi menjadi bentuk perlawanan paling radikal. Pendidikan Agama Islam mengajarkan bahwa manusia tidak cukup hanya sibuk, tapi harus bermakna. Tidak cukup produktif, tapi juga reflektif. Tahun 2026 bukan tentang “aku mau lebih sukses”, tapi “aku mau jadi manusia yang lebih jujur, lebih adil, dan lebih peduli”.
Dalam Islam, perubahan sejati dimulai dari dalam diri. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d: 11). Ayat ini terasa sangat Gen Z: self-improvement versi spiritual. Bukan sekadar glow up fisik atau karier, tapi inner growth (memperbaiki niat, akhlak, dan arah hidup).
Pendidikan Agama Islam juga mengajarkan keseimbangan. Di tengah tuntutan akademik, karier, dan eksistensi digital, kita sering lupa bertanya: apakah yang kita kejar mendekatkan kita pada Allah atau justru menjauhkan? Tahun baru adalah momen evaluasi: mana mimpi yang layak diperjuangkan, dan mana ambisi yang perlu direm.
Memasuki 2026, refleksi tidak harus rumit. Bisa dimulai dari pertanyaan sederhana: sudahkah kita jujur hari ini? Sudahkah ilmu yang kita pelajari membawa manfaat? Sudahkah media sosial kita menjadi ladang kebaikan, bukan sekadar validasi? Pendidikan Agama Islam tidak mengajak kita menjadi sempurna, tapi menjadi lebih baik dari kemarin, itu saja sudah cukup berat, tapi mulia.
Akhirnya, tahun baru bukan tentang angka 2026, tapi tentang kualitas jiwa yang kita bawa ke dalamnya. Jika 2025 penuh luka, biarlah 2026 menjadi ruang belajar. Jika 2025 penuh rencana gagal, jadikan 2026 sebagai tahun memperbaiki niat, bukan sekadar target.
Karena dalam Islam, hidup bukan tentang seberapa cepat kita sampai, tapi seberapa benar arah kita melangkah. Selamat datang 2026, semoga kita tidak hanya bertambah usia, tapi juga bertambah pengetahuan dan kemanfaatan.