Oleh: Ika Tri Susilowati, M.Pd
Bagi banyak mahasiswa non-Bahasa, mata kuliah Bahasa Inggris sering dianggap sebagai momok. Kata-kata asing, tata bahasa yang terasa rumit, serta rasa takut salah saat berbicara membuat sebagian mahasiswa merasa Bahasa Inggris adalah pelajaran yang sulit dan menakutkan. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Belajar Bahasa Inggris sebenarnya tidak harus sulit, asalkan dilakukan dengan cara yang tepat dan sesuai kebutuhan mahasiswa.
- Bahasa Inggris sebagai Keterampilan, Bukan Sekadar Mata Kuliah
Kesalahan umum yang sering terjadi adalah memandang Bahasa Inggris hanya sebagai mata kuliah yang harus lulus, bukan sebagai keterampilan hidup. Padahal, Bahasa Inggris berperan penting dalam berbagai aspek, mulai dari membaca referensi internasional, mengikuti seminar global, hingga mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Ketika mahasiswa menyadari manfaat praktisnya, motivasi belajar akan tumbuh secara alami.
- Fokus pada Kebutuhan, Bukan Kesempurnaan
Mahasiswa non-Bahasa tidak dituntut untuk menjadi ahli linguistik. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan menggunakan Bahasa Inggris sesuai kebutuhan, misalnya untuk memahami teks akademik, menulis CV dan application letter, atau berkomunikasi dasar. Tidak masalah jika tata bahasa belum sempurna. Yang utama adalah pesan dapat tersampaikan dengan jelas.
- Mulai dari Hal Sederhana dan Dekat dengan Kehidupan
Belajar Bahasa Inggris akan terasa lebih ringan jika dimulai dari hal-hal yang dekat dengan keseharian mahasiswa. Misalnya:
- Memperkenalkan diri
- Menceritakan aktivitas kuliah
- Menjelaskan hobi atau pengalaman organisasi.
Kalimat sederhana yang sering digunakan justru lebih bermanfaat daripada menghafal struktur kalimat yang jarang dipakai.
- Jangan Takut Salah
Rasa takut salah adalah penghambat terbesar dalam belajar Bahasa Inggris. Padahal, kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Mahasiswa perlu menanamkan pola pikir bahwa berbicara tidak harus langsung benar, tetapi harus berani mencoba. Lingkungan kelas yang suportif dan tidak menghakimi sangat membantu meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa.
- Manfaatkan Teknologi secara Bijak
Saat ini, mahasiswa memiliki banyak sumber belajar yang mudah diakses, seperti video pembelajaran, podcast, aplikasi bahasa, hingga AI seperti ChatGPT. Teknologi dapat menjadi teman belajar yang efektif jika digunakan secara bijak, misalnya untuk:
- Memperkaya kosakata
- Mengecek struktur kalimat
- Berlatih menulis secara mandiri.
Namun, mahasiswa tetap perlu memahami etika akademik dan tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi.
- Konsistensi Lebih Penting daripada Durasi
Belajar Bahasa Inggris tidak harus lama, tetapi harus rutin. Lima belas menit setiap hari jauh lebih efektif daripada belajar dua jam tetapi hanya seminggu sekali. Konsistensi membantu mahasiswa terbiasa dengan bunyi, kosakata, dan pola kalimat Bahasa Inggris secara alami.
- Peran Dosen sebagai Fasilitator
Dalam konteks mahasiswa non-Bahasa, dosen berperan penting sebagai fasilitator yang membimbing, bukan sekadar penguji. Pendekatan pembelajaran yang kontekstual, relevan dengan bidang studi mahasiswa, dan berbasis praktik akan membuat Bahasa Inggris terasa lebih bermakna dan mudah dipahami. Belajar Bahasa Inggris tidak harus sulit dan menakutkan, terutama bagi mahasiswa non-Bahasa. Dengan pendekatan yang tepat, fokus pada kebutuhan, keberanian untuk mencoba, serta pemanfaatan teknologi secara bijak, Bahasa Inggris dapat menjadi keterampilan yang berguna dan menyenangkan. Yang terpenting, mahasiswa perlu menyadari bahwa kemampuan Bahasa Inggris bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang menjadi lebih siap menghadapi tantangan akademik dan profesional di masa depan.
Sumber Gambar: https://www.kompas.id/artikel/cara-seru-belajar-bahasa-inggris