Oleh: Wahyu Kholis Prihantoro, M.Pd
Perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW bukan sekadar peristiwa spiritual yang monumental dalam sejarah Islam, melainkan juga sumber inspirasi intelektual dan etis yang relevan bagi kehidupan mahasiswa masa kini. Dalam konteks dunia pendidikan tinggi yang sarat tantangan akademik, tekanan sosial, dan ketidakpastian masa depan, kisah Isra’ Mi’raj menawarkan nilai-nilai fundamental yang dapat diteladani untuk membentuk karakter mahasiswa yang sukses, tangguh, dan visioner. Isra’ Mi’raj merepresentasikan perjalanan transformatif dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus langit hingga Sidratul Muntaha. Secara simbolik, perjalanan ini mencerminkan proses peningkatan kualitas diri: dari dimensi fisik menuju dimensi spiritual dan intelektual yang lebih tinggi. Bagi mahasiswa, makna ini dapat diterjemahkan sebagai komitmen untuk terus bertumbuh, melampaui zona nyaman, dan berani menghadapi tantangan akademik dengan kesadaran tujuan yang jelas.
Salah satu pelajaran utama dari Isra’ Mi’raj adalah disiplin dan konsistensi, yang terwujud dalam perintah salat lima waktu. Salat bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga latihan manajemen waktu, ketertiban, dan fokus. Mahasiswa yang sukses adalah mereka yang mampu mengelola waktu secara efektif menyeimbangkan antara kuliah, riset, organisasi, dan pengembangan diri sebagaimana salat mengajarkan keteraturan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Selain itu, Isra’ Mi’raj mengajarkan pentingnya keteguhan iman dan mentalitas resilien. Rasulullah SAW mengalami berbagai ujian berat sebelum dan sesudah peristiwa tersebut, namun tetap teguh pada misi dakwahnya. Nilai ini relevan bagi mahasiswa yang kerap menghadapi kegagalan akademik, tekanan sosial, atau keraguan terhadap masa depan. Meneladani Rasul berarti memandang kegagalan sebagai proses pembelajaran, bukan akhir perjalanan.
Dimensi lain yang tidak kalah penting adalah visi transendental. Dalam Isra’ Mi’raj, Rasulullah SAW diperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah yang melampaui batas nalar manusia. Hal ini mengajarkan mahasiswa untuk memiliki visi besar, berpikir melampaui kepentingan jangka pendek, dan mengaitkan pencapaian akademik dengan kontribusi kemanusiaan. Pendidikan tinggi sejatinya bukan hanya tentang karier, tetapi juga tentang membangun peradaban yang berkeadilan dan bermartabat. Dengan demikian, mahasiswa yang meneladani nilai-nilai Isra’ Mi’raj akan tumbuh menjadi pribadi yang disiplin, resilien, dan visioner. Ia tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun integritas moral dan kedalaman spiritual. Inilah fondasi sejati mahasiswa sukses mereka yang mampu menyinergikan ilmu pengetahuan, nilai keimanan, dan tanggung jawab sosial demi masa depan yang bermakna, baik bagi dirinya maupun bagi umat manusia.