{"id":832,"date":"2026-07-17T05:51:20","date_gmt":"2026-07-17T05:51:20","guid":{"rendered":"https:\/\/pai.almaata.ac.id\/?p=832"},"modified":"2026-07-17T05:51:21","modified_gmt":"2026-07-17T05:51:21","slug":"pendidikan-profetik-dan-artificial-intelligence-membangun-manusia-yang-tidak-dapat-digantikan-oleh-teknologi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pai.almaata.ac.id\/index.php\/2026\/07\/17\/pendidikan-profetik-dan-artificial-intelligence-membangun-manusia-yang-tidak-dapat-digantikan-oleh-teknologi\/","title":{"rendered":"Pendidikan Profetik dan Artificial Intelligence: Membangun Manusia yang Tidak Dapat Digantikan oleh Teknologi"},"content":{"rendered":"\n<p>Dr. Muh Mustakim, M.Pd.I<\/p>\n\n\n\n<p>Perkembangan <em>Artificial Intelligence<\/em> (AI) menjadi satu diantara transformasi besar di era abad 21. AI sepertinya tidak hanya sekadar menjadi tren kemajuan teknologi sesaat, saat ini telah berkembang diberbagai sector kehidupan manusia. Laporan Stanford AI Index 2026 menunjukkan bahwa adopsi <em>generative AI<\/em> berlangsung lebih cepat dibandingkan adopsi komputer pribadi maupun internet pada fase awal perkembangannya. Penelitian Fahmi Ashari S. Sihaloho dkk (2024) menunjukkan bahwa AI memiliki potensi besar dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran, memberikan umpan balik yang lebih personal, dan membantu pengambilan keputusan oleh pendidik. Dari perspektif utilitas tersebut menunjukkan bahwa AI memiliki kebermanfaatan yang signifikan dalam Pendidikan. Namun, disisi lain tantangan pemanfaatan AI untuk Pendidikan dihadapkan pada isu biaya pengembangan insfrastuktur teknologi yang tidak sedikit maupun isu tentang etika. Isu kedua ini yang mestinya menjadi perhatian penting bagi para praktisi Pendidikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Survey Global Student (2025) yang dirilis Chegg sebagaimana dikutip kamusmahasiswa.com menunjukkan bahwa dari 15 negara yang disurvey, hanya sekitar 20% responden yang mengaku belum pernah menggunakan AI sama sekali. Artinya empat dari lima mahasiswa dunia telah memanfaatkan AI. Pada 12 Maret 2026 bertempat di Kemenko PMK Republik Indonesia. 7 menteri resmi menandatangani SKB (surat keputusan bersama) yang mengatur tentang pedoman pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI) dalam lingkungan Pendidikan formal, non-formal dan informal.<\/p>\n\n\n\n<p>Idealnya, perlu kesadaran bersama akan pentingnya menyikapi pemanfaatan AI secara bijak dan bertanggungjawab. Perhatian utamanya tetaplah ditujukan pada kualitas manusia yang mengembangkan dan menggunakan AI. Manusia tetap menjadi pusat dari setiap inovasi. AI maupun teknologi lainnya bukan dimaksudkan menggantikan manusia sepenuhnya melainkan untuk meningkatkan kemampuan manusia dalam belajar, bekerja, dan menyelesaikan persoalan kompleks. Perspektif ini selaras dengan pendidikan profetik yang memandang ilmu dan teknologi sebagai sarana mewujudkan kemaslahatan manusia. Teknologi yang semakin maju harus berjalan bersama peningkatan nilai kemanusiaan, bukan menggantikannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Terinspirasi dari Qs. Ali Imron ayat 104, Kuntowijoyo menginterprestasikan sebagai teori sosial profetik yang mencakup tiga pilar. <em>Pertama, <\/em>humanisasi (<em>amar ma\u2019ruf<\/em>) mengandung pengertian memanusiakan manusia. Humanisasi menekankan penghormatan terhadap martabat manusia melalui empati, kepedulian, dan keadilan. <em>Kedua, <\/em>liberasi (<em>nahi munkar<\/em>) mengandung pengertian pembebasan. Liberasi mendorong pendidikan membebaskan manusia dari kebodohan, ketergantungan, serta berbagai bentuk ketidakadilan struktural. <em>Ketiga, <\/em>transendensi (<em>tu\u2019minuna billah<\/em>) mengandung pengertian dimensi keimanan manusia. Transendensi mengarahkan seluruh aktivitas keilmuan pada kesadaran spiritual dan tanggung jawab kepada Tuhan. Dalam perspektif pendidikan profetik, AI dapat menjadi instrumen pembebasan (<em>liberation<\/em>) apabila digunakan untuk memperluas akses pendidikan, membantu peserta didik memahami ilmu pengetahuan, serta membuka peluang belajar bagi masyarakat yang sebelumnya mengalami keterbatasan. Namun, AI juga harus diarahkan melalui prinsip humanisasi dan transendensi agar perkembangan teknologi tetap memiliki orientasi moral. Oleh karena itu, masa depan pendidikan bukanlah pertarungan antara manusia melawan mesin, tetapi upaya membangun hubungan konstruktif antara kecerdasan buatan dan kebijaksanaan manusia. Kemajuan AI harus diposisikan sebagai sarana mempercepat lahirnya peradaban yang lebih cerdas, adil, dan manusiawi. Perlu digarisbawahi bahwa <strong>&#8220;Teknologi menentukan kemampuan manusia, tetapi nilai menentukan arah peradaban.&#8221;<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dialog antara pendidikan profetik dan AI tidak perlu diposisikan sebagai hubungan yang saling bertentangan. AI memiliki keunggulan dalam mengolah data, mengenali pola, dan meningkatkan efisiensi pembelajaran, sedangkan manusia memiliki kemampuan yang tidak dapat direplikasi teknologi, seperti kebijaksanaan, empati, nurani, tanggung jawab moral, dan kesadaran transendental. Oleh karena itu, integrasi keduanya harus dibangun dalam paradigma AI for Humanity, yakni AI dimanfaatkan untuk memperkuat proses belajar, sementara pendidikan profetik memastikan bahwa penggunaan teknologi tetap berpijak pada nilai humanis, liberasi dan transenden. Dengan pendekatan ini, AI menjadi instrumen yang memperluas akses pengetahuan, sedangkan pendidikan profetik membentuk arah dan tujuan pemanfaatannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Implikasi praktis paradigma tersebut setidaknya dapat dilakukan melalui tiga Langkah berikut. <em>Pertama<\/em>, mengembangkan literasi AI yang tidak hanya berorientasi pada keterampilan teknis, tetapi juga etika, privasi, dan tanggung jawab digital serta mengintegrasikannya dengan nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi. <em>Kedua, <\/em>Optimalisasi peran guru sebagai educator, fasilitator, mentor, dan pembentuk karakter serta membangun kolaborasi antara sekolah, keluarga, perguruan tinggi, pemerintah, dan industri dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. <em>Ketiga, <\/em>mengembangkan asesmen yang mengukur kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan pengambilan keputusan etis, bukan sekadar hasil akhir yang dapat dihasilkan AI. Ketiga Langkah tersebut juga harus memperhatikan kesenjangan literasi digital, kesiapan pendidik, regulasi, dan kemampuan menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Implementasi tersebut perlu memperhatikan tiga prinsip dasar yaitu menjadikan AI sebagai mitra belajar, mengintegrasikan nilai-nilai profetik dalam proses pembelajaran dan membangun ekosistem Pendidikan yang adaptif dan humanis. <strong>AI sebagai mitra belajar, bukan pengganti berpikir, me<\/strong>manfaatkannya untuk memperluas akses terhadap informasi, membantu eksplorasi ide, dan meningkatkan efisiensi pembelajaran, namun tidak menggantikan proses berpikir kritis, analisis, refleksi, dan pengambilan keputusan. Karenanya, perlu dibangun budaya akademik yang memanfaatkan AI secara bertanggung jawab. Selain itu, <strong>mengintegrasikan nilai-nilai profetik dalam setiap proses pembelajaran juga harus menjadi prinsip dasar.<\/strong> Pendidikan tidak cukup berorientasi pada penguasaan teknologi, tetapi harus menumbuhkan karakter melalui nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi dengan harapan pemanfaatan AI berbasis Pendidikan profetik tidak hanya menghasilkan individu yang cerdas secara digital, tetapi juga matang secara etis dan spiritual. <strong>E<\/strong><strong>kosistem pendidikan yang adaptif dan humanis menjadi tanggungjawab semua pihak. <\/strong>Ekosistem yang adaptif dan humanis diharapkan mampu memastikan bahwa perkembangan teknologi berjalan seiring dengan penguatan karakter, sehingga pendidikan tetap berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya, bukan sekadar menghasilkan pengguna teknologi yang terampil.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada akhirnya, kemajuan AI tidak harus dipandang sebagai ancaman bagi pendidikan, melainkan momentum untuk merekonstruksi kembali tujuan Pendidikan. Pendidikan profetik menawarkan perspektif bahwa keberhasilan pendidikan tidak diukur dari seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi dari seberapa mampu pendidikan membentuk manusia yang berintegritas, bijaksana, peduli terhadap sesama, dan bertanggung jawab atas penggunaan teknologi. Dengan demikian, kemajuan teknologi adalah sarana, bukan tujuan, dalam membangun masa depan Pendidikan sehingga transformasi digital tetap berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban.<\/p>\n\n\n\n<p><em>)* diolah dan dikembangkan dari berbagai sumber<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dr. Muh Mustakim, M.Pd.I Perkembangan Artificial Intelligence (AI) menjadi satu diantara transformasi besar di era abad 21. AI sepertinya tidak hanya sekadar menjadi tren kemajuan teknologi sesaat, saat ini telah berkembang diberbagai sector kehidupan manusia. Laporan Stanford AI Index 2026 menunjukkan bahwa adopsi generative AI berlangsung lebih cepat dibandingkan adopsi komputer pribadi maupun internet pada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":818,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"off","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","_joinchat":[],"footnotes":""},"categories":[5],"tags":[],"class_list":["post-832","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pai.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/832","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pai.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pai.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pai.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pai.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=832"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pai.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/832\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":833,"href":"https:\/\/pai.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/832\/revisions\/833"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pai.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/818"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pai.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=832"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pai.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=832"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pai.almaata.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=832"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}