Oleh: Dr. Imam Suyuti, M.Pd

“Kesadaran akan kehampaan total ini menyalakan teror yang sangat dalam, seolah terjun tanpa jaring pengaman ke dalam jurang tak bertepi.”

Manusia kerap mengalami ketakutan ketika berhadapan dengan kematian karena sekumpulan alasan yang saling bertaut, mulai dari kecemasan akan lenyapnya identitas diri hingga kekhawatiran terhadap proses sekarat yang menyakitkan. Salah satu akar paling mendasar dari ketakutan ini terletak pada gagasan bahwa kematian menandai pemusnahan “diri,” beserta seluruh ingatan dan makna yang dibangun sepanjang hidup (Hu, 2003). Kesadaran akan kehampaan total ini menyalakan teror yang sangat dalam, seolah terjun tanpa jaring pengaman ke dalam jurang tak bertepi.

Selain itu, banyak orang sesungguhnya tidak takut pada kematian itu sendiri, melainkan pada proses menuju kematian, yang sering diselimuti bayang-bayang penderitaan fisik, ketergantungan pada orang lain, dan rasa tak berdaya (Terry, 2018). Kekuatan kecemasan ini bersumber dari ketidakmampuan kita mengendalikan momen-momen terakhir tersebut, ditambah kekhawatiran akan rasa sakit yang mungkin mendahului datangnya kematian.

Sama meluasnya adalah ketakutan akan perpisahan, yaitu kemungkinan meninggalkan orang-orang tercinta. Pikiran bahwa kepergian seseorang akan menimbulkan duka mendalam pada keluarga atau sahabat memicu kecemasan yang melampaui individu, lalu menjadi amat sosial dan emosional (Barusch, 2010). Bagi banyak orang, kesepian di penghujung hidup terasa lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri.

Dinamika budaya turut memperparah kecemasan terhadap kematian. Dalam masyarakat modern, ketika ritual-ritual keagamaan kerap memudar, makna kematian semakin melemah. Erosi makna ini menyuburkan ketakutan yang meluas (Tičkaitė, 2024). Para filsuf kontemporer menekankan bahwa ketakutan ini berakar pada kecemasan mendasar terkait ketidakpastian dan hilangnya kontrol atas hidup seseorang (Nyatanga, 2005).

Namun, manusia tidak menyerah begitu saja pada ketakutan ini. Untuk meredakan kecemasan eksistensial, kita menciptakan simbol dan pencapaian, dari karya seni hingga status sosial, sebagai cara mempertahankan diri secara simbolik. Melalui ketenaran, agama, atau warisan budaya, individu berupaya menandingi ketakutan akan lenyapnya eksistensi (Perrulli, 2005).

Perspektif Historis tentang Makna Kematian

Pada masa kuno, ketakutan terhadap kematian lebih terkait dengan makna dan kontribusi hidup seseorang daripada kematian itu sendiri. Dalam filsafat Stoa dan pemikiran moral Adam Smith, mati demi kehormatan atau tugas mulia bukan hanya dapat diterima, bahkan dipandang terhormat. Yang menggelisahkan para pemikir tersebut bukan kematian itu sendiri, melainkan kematian yang tidak bernilai atau tanpa kontribusi (Rathbone, 2023).

Tradisi ars moriendi di Eropa abad pertengahan menggambarkan “seni mati dengan baik,” yaitu keyakinan bahwa kematian harus dihadapi dengan persiapan spiritual, iman, dan kesadaran batin. Kematian yang tiba-tiba atau tanpa kesiapan dipandang sebagai akhir yang disayangkan (Tait, 2002). Sejalan dengan itu, dalam studi tentang subjektivitas kematian, banyak tokoh memandang dedikasi pada keadilan dan kebaikan sosial sebagai jalan menuju kematian yang bermartabat, bukan menakutkan (Chung et al., 1999).

Para pemikir eksistensialis seperti Kierkegaard dan Sartre menambahkan nuansa lain. Ketakutan muncul ketika seseorang belum memberi makna pada hidupnya. Bagi mereka, kecemasan bukan tentang kematian itu sendiri, melainkan tentang hidup yang tanpa makna (Danylova et al., 2024). Bahkan kaum Epikurean seperti Epicurus berpendapat bahwa ketakutan akan kematian tidak logis, karena kesadaran berhenti saat kematian. Karena itu, yang patut ditakuti adalah hidup yang dijalani sia-sia, bukan kematian itu sendiri (Tsouna, 2007).

Modernitas dan Fenomena Filantropi Ekstrem

Modernitas secara mendalam mengubah cara manusia memandang kematian. Dalam masyarakat Barat kontemporer, kematian menjadi sangat terprivatisasi dan kerap menjadi tabu dalam wacana publik. Hal ini berbanding terbalik dengan tradisi masa lalu yang mengintegrasikan kematian dalam kehidupan komunal dan religius (Mellor & Shilling, 1993). Sikap terhadap hidup dan mati makin individualistik dan sekuler, sehingga kematian dipersepsi sebagai “akhir total,” yang memperkuat kecemasan terhadap kefanaan diri (Tičkaitė, 2024).

Media kemudian memperkuat paradoks ini. Kematian disensasionalisasi di layar dan laporan berita, tetapi tanpa makna ritual yang lebih dalam. Akibatnya, kematian terasa ada di mana-mana, namun tak pernah sungguh “terpegang” secara eksistensial (Fulton & Owen, 1988).

Di tengah konteks ini, muncul fenomena luar biasa, yaitu orang-orang terkaya di dunia menyumbangkan hampir seluruh harta mereka. Motivasinya sering bernuansa eksistensial. Altruisme dipilih sebagai jalan menuju “kematian yang baik” dengan meninggalkan nilai-nilai yang bertahan lama (Jankofsky & Stuecher, 1984). Kesadaran bahwa kekayaan tidak bisa menjamin kebahagiaan abadi mendorong pencarian warisan, yaitu kontribusi sosial dan perubahan berkelanjutan yang membuat kematian terasa bermakna (Bifulco et al., 2018).

Peran Spiritualitas dalam Meredakan Ketakutan

Sejumlah besar riset menegaskan bahwa spiritualitas berperan krusial dalam menurunkan kecemasan terhadap kematian. Praktik seperti doa, meditasi, dan refleksi diri menumbuhkan ketenangan serta penerimaan ketika seseorang merenungkan kefanaannya (Cortez, 2019; Kruse et al., 2007). Pada lansia, tingkat spiritualitas yang tinggi berkorelasi dengan kecemasan kematian yang lebih rendah, sebab kematian dipahami sebagai transisi, bukan penghentian total (Budhiraja & Midha, 2017; Aderyani et al., 2021).

Secara klinis, pasien hospice yang mengadopsi pendekatan spiritual menunjukkan kedamaian batin yang lebih besar dan strategi koping yang lebih efektif (Kruse et al., 2007; Clark, 1991). Banyak individu melaporkan bahwa spiritualitas menumbuhkan harapan akan keberlanjutan jiwa atau kehidupan setelah mati, sehingga mengurangi ketakutan akan “akhir” (Aderyani et al., 2021; Mararagan & Olegario, 2008). Terapi kelompok spiritual terbukti efektif menurunkan skor kecemasan kematian pada lansia (Aloustani & Mamashli, 2020). Pengalaman mendekati kematian (near-death experiences) juga sering memicu transformasi spiritual yang mendalam, sehingga menumbuhkan empati, cinta tanpa syarat, dan makna hidup yang lebih kaya (Greyson, 2006).

Perspektif Islam: Kematian sebagai Ambang Kehidupan Kekal

Dalam Islam, kematian bukanlah akhir, melainkan pintu menuju akhirat. Kesadaran akan kefanaan hidup dan janji eksistensi abadi melahirkan ketenteraman spiritual yang mendalam, sebab kehidupan dunia hanyalah sementara (Safin, 2019; Asadzandi, 2019). Disiplin spiritual Islam, seperti zikir, salat, dan tawakal, terbukti menurunkan kecemasan kematian dan rasa kesepian pada lansia (Dashtbozorgi et al., 2016; Rizai, 2020).

Al-Qur’an (Ar-Ra‘d: 28) menegaskan, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram,” sejalan dengan temuan bahwa iman yang kuat mengurangi kecemasan dan stres psikologis (Nisar et al., 2015). Harapan akan surga dan keyakinan pada keadilan Ilahi semakin meredakan ketakutan akan ketiadaan pascakematian (Çaksen, 2022; Ahmad, 2018). Selain itu, dukungan komunitas Muslim, melalui bimbingan para ulama dan pembimbing rohani, memperkuat kesiapan mental lansia untuk menghadapi kematian (Rizai, 2020). Dengan pemahaman ini, kematian tidak lagi menjadi titik akhir yang menakutkan, melainkan transisi bermakna menuju kehidupan kekal yang dijanjikan.


Referensi:

Aderyani, M. R., Alimadadi ,Elham, Hajrahimian ,Mohamadhasan, & and Taheri-Kharameh, Z. (2021). Does spirituality predict death anxiety in chronically ill older adults in a religious context? Journal of Religion, Spirituality & Aging33(3), 350–360. https://doi.org/10.1080/15528030.2020.1814936

Ahmad, W. ‘a Q. (2018). Spiritual Care at The End Of Life: Western Views and Islamic Perspectives. International Journal of Human and Health Sciences (IJHHS)2(2), Article 2. https://doi.org/10.31344/ijhhs.v2i2.28

Aloustani, S., & Mamashli, L. (2020). The effect of spiritual group therapy on death anxiety in the elderly. Journal of Hayathttps://www.semanticscholar.org/paper/The-effect-of-spiritual-group-therapy-on-death-in-Aloustani-Mamashli/ea01c92623e072ad85d74d3801014bca534340fe?utm_source=consensus

Asadzandi, M. (2019). “Prevention of Death Anxiety by Familiarity with the Concept of Death”. Journal of Preventive Medicine and Care2(4), 23–29. https://doi.org/10.14302/issn.2474-3585.jpmc-19-2947

Bifulco, L., Federico, Cavicchia, A., Pecchinenda, G., & Santoro, A. (2018). The representation of death in modern societyhttps://www.semanticscholar.org/paper/The-representation-of-death-in-modern-society-Bifulco-Federico/d0c3c1d73393e69c067976d9735003fa46295323?utm_source=consensus

Budhiraja, A., & Midha, P. (2017). Buffering Power of Spirituality against Death Anxiety. International Journal of Indian PsychologyComparative Studyhttps://doi.org/10.25215/0402.146

Çaksen, H. (2022). Retracted Article: The Spiritual Dimension of Death: A Mini Review. Journal of Pediatric Intensive Care13, e1–e5. https://doi.org/10.1055/s-0042-1758739

Chung, H. K., Kim, K. H., Yeun, E., Ryu, E. J., Yeoum, S. G., Chung, Y. K., & Kwon, H. J. (1999). A Study on the Subjectivity about Death. Journal of Korean Academy of Psychiatric and Mental Health Nursing8(1), 5–16.

Clark, B. (1991). Spirituality in the Hospice Setting. Palliative Medicine5(2), 151–154. https://doi.org/10.1177/026921639100500210

Cortez, I. F. (2019). The Presence of Spirituality and its Effect on Attitudes Towards Deathhttps://www.semanticscholar.org/paper/The-Presence-of-Spirituality-and-its-Effect-on-Cortez/9e06d0ed9828ab10a5b5804ae4a84f766bbe7849?utm_source=consensus

Danylova, T., Storozhuk, S., Kryvda, N., & Matviienko, I. (2024). For whom the bell tolls: The fear of death and the ways to become less afraid of it. Wiadomości Lekarskie77(10), 2090–2097. https://doi.org/10.36740/WLek/195171

Dashtbozorgi, Z., Sevari, K., & Safarzadeh, S. (2016, November 21). Effectiveness of Islamic Spiritual Therapy on The Feeling of Loneliness and Death Anxiety in Elderly Peoplehttps://www.semanticscholar.org/paper/EFFECTIVENESS-OF-ISLAMIC-SPIRITUAL-THERAPY-ON-THE-Dashtbozorgi-Sevari/ee4c9f02e69da50b4cb711deab2ccdd89e212be0?utm_source=consensus

Fulton, R., & Owen, G. (1988). Death and Society in Twentieth Century America. OMEGA — Journal of Death and Dying18(4), 379–395. https://doi.org/10.2190/6KYM-F9EB-VY1J-FQWE

Greyson, B. (2006). Near‐Death Experiences And Spirituality. Zygon: Journal of Religion and Science41(2), Article 2. https://doi.org/10.1111/j.1467-9744.2005.00745.x

Hu, Y. (2003). On Fear for Death. Journal of Jiangxi Institute of Educationhttps://www.semanticscholar.org/paper/On-Fear-for-Death-Hu/ac7fea84e1438e126c972d12f8a78c68ae859554?utm_source=consensus

Jankofsky, K. P., & Stuecher, U. H. (1984). Altruism: Reflections on a Neglected Aspect in Death Studies. OMEGA — Journal of Death and Dying14(4), 335–353. https://doi.org/10.2190/4G02-0AFL-GC2G-63K7

Kruse, B. G., Ruder, S., & Martin, L. (2007). Spirituality and Coping at the End of Life. Journal of Hospice & Palliative Nursing9(6), 296. https://doi.org/10.1097/01.NJH.0000299317.52880.ca

Mararagan, M. L. R., & Olegario, J. R. B. (2008). Spirituality: Its influence on the perceptions of elderly towards death. https://consensus.app/papers/spirituality-its-influence-on-the-perceptions-of-elderly-mararagan-olegario/0ea6c821025051ada9f36c50456e3cc0/

Mellor, P. A., & Shilling, C. (1993). Modernity, Self-Identity and the Sequestration of Death. Sociology27(3), 411–431. https://doi.org/10.1177/0038038593027003005

Nisar, F., Farwa, U., & Nadeem, S. (2015, December 12). Spiritual Impacts of Islamic Beliefs and Worships to Address Psychological Problemshttps://www.semanticscholar.org/paper/SPIRITUAL-IMPACTS-OF-ISLAMIC-BELIEFS-AND-WORSHIPS-Nisar-Farwa/f8590be9d8bb3bc1f3c6de0864dc2b18e53d6f22?utm_source=consensus

Nyatanga, B. (2005). Is fear of death itself a rational preoccupation? International Journal of Palliative Nursing11(12), 643–645. https://doi.org/10.12968/ijpn.2005.11.12.20232

Perrulli, R. (2005). The Fear of Death and Narcissism. The New School Psychology Bulletin3(1), 43–77.

Rathbone, M. (2023). Life, death and commodification: Fear of death in the work of Adam Smith. South African Journal of Philosophy42(1), 37–50. https://doi.org/10.1080/02580136.2023.2211826

Rizai, M. (2020, May 5). Bimbingan Rohani Islam dalam Mengurangikecemasan Menghadapi Kematian pada Lansiahttps://www.semanticscholar.org/paper/BIMBINGAN-ROHANI-ISLAM-DALAM-MENGURANGIKECEMASAN-Rizai/1c2bfd3fc5c0f4dcdc9a9253d13790648a4f90ae?utm_source=consensus

Safin, R. (2019). Philosophical and psychological aspects of the attitude to death in Islam. The awareness of the inevitability of death and ways of overcoming the fear. Minbar. Islamic Studieshttps://doi.org/10.31162/2618-9569-2019-12-2-571-584

Tait, C. (2002). Dying Well: Experiences of Death. In C. Tait (Ed.), Death, Burial and Commemoration in Ireland, 1550–1650 (pp. 7–29). Palgrave Macmillan UK. https://doi.org/10.1057/9781403913951_2

Terry, P. (2018). Fears of death and fears of dying in the counter-transference. Psychodynamic Practice24(2), 160–171. https://doi.org/10.1080/14753634.2018.1458642

Tičkaitė, M. (2024). Why is modern man afraid of death? Arts & Humanities Open Access Journal6(2), 107–109. https://doi.org/10.15406/ahoaj.2024.06.00229

Tsouna, V. (2007). The Fear of Death. In V. Tsouna (Ed.), The Ethics of Philodemus (p. 0). Oxford University Press. https://doi.org/10.1093/acprof:oso/9780199292172.003.0011