Oleh: Rizal Fathurrohman, M.Pd

Pendidikan Agama Islam (PAI) menempati posisi penting dalam membentuk generasi Z yang patuh dan taat secara aksiologis, yaitu kemampuan mengaktualisasikan nilai ke dalam tindakan nyata. Generasi ini hidup dalam lanskap digital yang sarat informasi sekaligus rentan terhadap krisis makna dan relativisme nilai. Dalam situasi tersebut, PAI hadir sebagai sistem pendidikan yang mengarahkan orientasi hidup agar selaras dengan prinsip moral dan spiritual.

Dalam kajian aksiologi, pendidikan berfokus pada nilai dan tujuan dari ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia. Perspektif filsafat Barat melalui pemikiran virtue ethics dari Aristoteles menekankan pembentukan karakter melalui pembiasaan tindakan baik. Nilai moral berkembang melalui praktik yang terus-menerus hingga menjadi kebiasaan. PAI memiliki kesesuaian dengan gagasan ini melalui pendekatan pembiasaan ibadah, penguatan akhlak, serta keteladanan yang dihadirkan dalam proses pendidikan.

Sementara itu, dalam tradisi filsafat Islam, aksiologi berakar pada konsep tauhid yang memandang seluruh aktivitas manusia sebagai bentuk pengabdian kepada Allah. Nilai ketaatan bersumber dari kesadaran transendental yang menghubungkan manusia dengan dimensi ilahiah. PAI menginternalisasikan nilai seperti kejujuran, amanah, dan tanggung jawab ke dalam praktik kehidupan sehari-hari, sehingga membentuk kepribadian yang utuh.

Secara empiris, berbagai studi menunjukkan bahwa generasi Z menghadapi tantangan etika akibat paparan media digital yang intens. Fenomena seperti menurunnya empati, meningkatnya individualisme, serta kaburnya batas moral menjadi indikasi perlunya penguatan pendidikan nilai. Dalam konteks ini, PAI berfungsi sebagai kompas moral yang memberikan arah dalam mengambil keputusan dan bertindak.

Dari sudut pandang teori humanisme modern, pendidikan diarahkan pada pengembangan manusia secara menyeluruh yang mencakup aspek intelektual, emosional, dan spiritual. PAI mengintegrasikan ketiga dimensi tersebut melalui pendekatan yang sistematis dan berkelanjutan. Proses ini menghasilkan individu yang memiliki kesadaran etis, kedalaman spiritual, serta tanggung jawab sosial dalam menghadapi dinamika zaman.

Dengan demikian, peran PAI dalam membentuk generasi Z yang patuh dan taat secara aksiologis terletak pada kemampuannya menghubungkan nilai dengan praktik kehidupan. PAI menjadi sarana pembentukan kesadaran moral yang berakar kuat sekaligus relevan dengan tantangan modernitas. Generasi Z yang dibina melalui PAI memiliki orientasi hidup yang jelas, berlandaskan nilai, serta mampu menghadirkan kebaikan dalam realitas sosial.