Oleh: Dr. Lathifatul Izzah, M.Ag

Generasi Z, generasi kelahiran antara 1997–2012, antara usia 14-29 tahun. Mereka bukan lagi sekadar “generasi digital” yang suka konten viral. Mereka sedang menjadi generasi yang paling rentan sekaligus paling berpotensi secara finansial di Indonesia. Data OJK dan BEI menunjukkan Gen Z sudah mendominasi lebih dari 50% investor ritel pasar modal baru dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di balik angka-angka itu, masih ada jurang lebar antara antusiasme dan pemahaman yang benar. Pendidikan investasi terbaik bukan lagi sekadar seminar satu hari atau webinar “cara cepat kaya”, melainkan pendekatan yang mengubah pola pikir dan pola perilaku dari “menabung untuk survive (bertahan hidup),” tetapi “investasi untuk thrive (maju)”.  Oleh karena itu diperlukan model pendidikan berjenjang dan berkelanjutan, sebagaimana dipesankan oleh Rasulullah SAW: “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat.

Pendidikan tidak hanya penting bagi usia anak-anak, dewasa, lansia, terutama remaja. Oleh itu Rasulullah SAW berpesan: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah). Remaja, yang sekarang disebut generasi Z merupakan penentu sejarah berikutnya. Generasi muda bukan sekadar penonton atau pelengkap cerita bangsa, melainkan orang yang benar-benar menulis babak baru. Mereka yang berusia 13–29 tahun sekarang akan menjadi pemimpin, pengusaha, peneliti, pembuat kebijakan, dan menjadi orang tua di 20–40 tahun ke depan. Apa yang mereka pilih hari ini, pendidikan, nilai, teknologi, lingkungan, politik akan menentukan bentuk masyarakat 2040–2060.

Sejarah Indonesia dibuktikan oleh bagaimana pemuda/remaja memiliki peran penting dalam mengukir sejarah, misalnya peristiwa 1928, yaitu Sumpah Pemuda (usia rata-rata 18–25 tahun). Kemudian peristiwa1945, yaitu peristiwa proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia yang banyak remaja dan pemuda di barisan depan. Selanjutnya peristiwa 1998, yaitu peristiwa reformasi, banyak mahasiswa dan pemuda turun ke jalan untuk menggerakkan reformasi. Pola ini terus berulang, ketika generasi tua (baby boomer) stuck, maka pemuda yang berani yang mengubah arah.

Mereka hidup di masa transisi teknologi dan nilai terbesar dalam sejarah manusia. Remaja sekarang lahir dan besar di era revolusi AI, transformasi digital, climate crisis, ekonomi digital, perang informasi, perubahan iklim ekstrem, ketidakpastian ekonomi dan geopolitik, serta perubahan perilaku dan regulasi. Mereka yang paling adaptif dan paling terdampak langsung, sehingga merekalah yang paling mungkin menciptakan solusi atau malah memperparah masalah kalau salah arah.

Pemuda hari ini (Gen Z) bukan pelengkap, tapi penulis cerita baru, maka penting ditanamkan iman, ilmu, akhlak, dan memiliki visi yang kuat. Sekali lagi hal tersebut dapat dicapai melalui pendidikan yang berkelanjutan. Lembaga pendidikan berkelanjutan yang berbasis dan berlatarbelakang keagamaan yang kemungkinan besar mampu menanamkan hal tersebut. Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddima-nya berpesan: “barangsiapa yang tidak terdidik oleh orang tuanya, baik oleh orang tuanya sendiri atau gurunya, maka ia akan didik oleh zamannya.” Jika anak sudah terdidik oleh zamannya, maka fatal akibatnya, hal ini dapat dilihat pada film Tarzan, yang dirilis 2016.

Selain itu pendidikan juga dapat membantu Gen Z dalam penguatan karakter, membimbing untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan tantangan masa depan. Pendidikan juga membantu meningkatkan kualitas diri, membantu untuk mengembangkan pengetahuan, ketrampilan, dan berpikir kritis, serta membantu untuk mandiri. Bimbingan semacam itu dapat diperoleh oleh gen Z, apabila ia diarahkan ke lembaga-lembaga pendidikan yang berkualitas atau terakreditasi unggul atau terstandar nasional atau internasional.

Topik ini diperbincangkan oleh Dr. Lathifatul Izzah, S.Th.I., M.Ag salah satu dosen Universitas Alma Ata bersama Maulida Miftahul Khasanah, salah satu mahasiswa S1 program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Alma Ata pada program PAITALK, pada Senin, 26 Januari 2026. Program tersebut diselenggarakan oleh program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Alma Ata setiap 1 minggu sekali (LI).